Pelatihan Metodologi PKM Hari Pertama: Kupas Tuntas Strategi ABCD dan Inspirasi Desa Miliarder
Sesi pertama pelatihan menghadirkan Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya sekaligus pakar metodologi pengabdian berbasis ABCD, Prof. Dr. Rubaidi, M.Ag. Dalam paparannya, Prof. Rubaidi mengulas secara komprehensif Metodologi ABCD (Asset-Based Community Development) yang menekankan pada pemanfaatan aset dan potensi lokal sebagai motor penggerak pembangunan masyarakat.
Metodologi ABCD memiliki lima tahapan utama:
- Discovery — Mengidentifikasi aset dan kekuatan komunitas.
- Dream — Merancang impian bersama tentang masa depan ideal.
- Design — Menyusun program dan aksi strategis berbasis aset.
- Define — Memantapkan tujuan serta menggalang kekuatan kolektif.
- Destiny — Melaksanakan aksi nyata secara berkelanjutan.
Lebih lanjut, Prof. Rubaidi menjelaskan berbagai jenis aset yang dapat dimobilisasi dalam pendekatan ABCD, mulai dari aset manusia (keterampilan dan pengetahuan), aset sosial (kelompok warga dan organisasi), aset fisik (infrastruktur dan lahan), aset lingkungan (sumber daya alam), hingga aset finansial (modal yang tersedia). Semua aset tersebut dimanfaatkan sebagai kekuatan utama dalam proses pemberdayaan masyarakat.
Sebagai ilustrasi nyata, Prof. Rubaidi menuturkan kisah sukses Desa Sekapuk, Gresik, yang awalnya hanyalah desa biasa dengan sisa galian tambang kapur. Melalui penerapan metode ABCD, desa ini berhasil melakukan inventarisasi aset, merancang strategi berbasis potensi lokal, serta membangun kolaborasi komunitas. Hasilnya, Desa Sekapuk bertransformasi menjadi “Desa Miliarder” yang mandiri dan sejahtera.
Ia juga mengutip teori “Low Hanging Fruits”, yaitu pendekatan untuk mengidentifikasi peluang yang paling mudah dijangkau dan memberi dampak cepat. “Ibarat memetik buah, ambillah yang paling dekat dan mudah diraih. Fokus pada peluang nyata yang bisa segera dimanfaatkan,” jelasnya.
Salah satu peserta dari Prodi PGMI, M. Suwignyo Prayogo, mengaku pelatihan ini sangat bermanfaat bagi pengembangan kompetensi dosen. “Mengikuti diklat metodologi pengabdian menjadi kebutuhan dan kewajiban bagi saya. Kegiatan ini memperkaya kompetensi profesional, mengasah kemampuan komunikasi dan kepemimpinan, serta memperkuat kolaborasi dengan masyarakat,” ungkapnya.
Ia berharap pelatihan serupa dapat terus dilaksanakan secara rutin. Menurutnya, pelatihan metodologi seperti ini sangat relevan untuk mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian, serta memberikan solusi konkret bagi pembangunan masyarakat.
Editor: Admin PGMI, M.S.Prayogo



