Pelatihan Metodologi PKM Hari Kedua: Prof. Evi Ajak Dosen ‘Hidupkan’ Potensi Lokal Lewat ABCD
Jember, 5 Oktober 2025 — Hari kedua Pelatihan Peningkatan Kapasitas Metodologi Pengabdian kepada Masyarakat berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Hj. Evi Fatimatur Rusydiyah, M.Ag., Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, sebagai narasumber utama. Pelatihan dimulai pukul 08.30 dan berakhir pukul 16.00 WIB dengan sesi intensif selama tujuh jam, diikuti oleh 31 peserta dari berbagai program studi.
Salah satu peserta, M. Suwignyo Prayogo, mengungkapkan bahwa suasana pelatihan hari kedua semakin menarik ketika para peserta diajak melakukan role playing menjadi perangkat desa dan peneliti Ketika melakukan wawancara secara langsung tentang proses discovery untuk menggali semua aset-aset desa. Melalui simulasi ini, peserta ditantang untuk berdiskusi dalam kelompok, menyusun strategi berdasarkan tahapan metode ABCD, dan mempresentasikan hasil kerja tim secara bergantian. Aktivitas ini tidak hanya melatih pemahaman konsep, tetapi juga membangun kolaborasi dan kreativitas peserta.
Dalam materinya, Prof. Evi menyampaikan secara mendalam praktik penerapan Metodologi ABCD (Asset-Based Community Development), yakni pendekatan pengabdian yang berfokus pada pemanfaatan potensi dan aset lokal sebagai kekuatan utama pembangunan masyarakat. Ia menegaskan bahwa diklat metodologi pengabdian memiliki manfaat strategis bagi dosen, terutama dalam meningkatkan kompetensi merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi program pengabdian yang efektif dan berdampak nyata.
“Melalui metode ABCD, dosen dapat berkontribusi lebih besar dalam menyelesaikan permasalahan masyarakat, menerapkan hasil penelitian secara konkret, memperkuat jejaring kolaborasi, dan mengembangkan karier akademik serta tanggung jawab sosial,” jelas Prof. Evi.
Pada sesi penutup, Prof. Evi menekankan pentingnya tahapan refleksi sebagai bagian akhir dari metode ABCD. Dalam tahap ini, data hasil monitoring dan evaluasi digunakan untuk menilai perkembangan capaian dan dampak program pengabdian. Refleksi menjadi kunci untuk mengukur sejauh mana pendekatan ABCD benar-benar membawa perubahan sosial di masyarakat.
Sebagai contoh nyata, Prof. Evi menuturkan kisah sukses KKN ABCD di Desa Sekapuk, Gresik. Desa ini awalnya hanyalah desa biasa dengan sisa tambang kapur yang terbengkalai. Melalui pendampingan dosen dan mahasiswa UIN Sunan Ampel serta pemanfaatan aset manusia dan finansial secara optimal, Desa Sekapuk berhasil bertransformasi menjadi “Desa Miliarder” yang kini dikenal luas sebagai model pemberdayaan berbasis aset lokal.
“Dari pengalaman Desa Sekapuk, kita belajar bahwa perubahan besar bisa dimulai dari potensi kecil yang dimanfaatkan secara strategis. Harapannya, ke depan akan lahir lebih banyak ‘desa miliarder’ di berbagai kabupaten di Indonesia,” tutup Prof. Evi.
Pelatihan hari kedua ini tidak hanya memperkaya pengetahuan peserta tentang metode ABCD, tetapi juga memberikan inspirasi konkret mengenai bagaimana pendekatan ini dapat diterapkan untuk mendorong transformasi sosial masyarakat secara berkelanjutan.
Editor: Admin PGMI, M.S.Prayogo



