Mengukir Jejak Intelektual: Sigit Priatmoko Bagi Strategi Menembus Jurnal Bereputasi di UIN KHAS Jember
Mengukir Jejak Intelektual: Sigit Priatmoko Bagi Strategi Menembus Jurnal Bereputasi di UIN KHAS Jember
Jember (27/10/2025) – Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya literasi akademik di kalangan mahasiswa. Melalui kegiatan Seminar Nasional bertajuk “Strategi Menulis Artikel Ilmiah dan Menembus Jurnal Bereputasi bagi Mahasiswa PGMI,” prodi ini menghadirkan Sigit Priatmoko, M.Pd. sebagai narasumber utama. Sosok Sigit dikenal luas sebagai Editor in Chief Jurnal Madrasah sekaligus Kepala Pusat Audit dan Pengendalian Mutu di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam sesi pemaparannya, ia menekankan pentingnya keterampilan menulis sebagai bagian integral dari pengembangan diri akademik. Acara yang digelar di ruang rapat FTIK lantai 2 itu berlangsung hangat dan penuh inspirasi.
Dalam pembukaan materinya, Sigit menyoroti peran strategis penulisan artikel ilmiah dalam kehidupan akademik modern. Menurutnya, menulis bukan hanya kewajiban akademis, melainkan juga sarana dakwah ilmiah untuk menyebarkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Melalui publikasi ilmiah, seseorang dapat membangun reputasi akademik, memperkuat personal branding, serta memperluas jejaring keilmuan lintas institusi. Ia menegaskan bahwa publikasi bukan sekadar formalitas, melainkan rekam jejak digital yang mencerminkan kompetensi dan integritas penulis. Karena itu, mahasiswa perlu menumbuhkan kebiasaan menulis sejak dini sebagai bekal profesional dan akademik di masa depan.
Sigit kemudian menjelaskan secara sistematis tahapan persiapan dalam menulis artikel ilmiah yang berkualitas. Langkah awal dimulai dari identifikasi masalah penelitian, pengumpulan literatur yang relevan, hingga menemukan celah atau research gap yang belum banyak dikaji. Ia menekankan pentingnya pemahaman teori dan kerangka berpikir yang matang untuk menghasilkan tulisan yang bernilai ilmiah tinggi. Selain itu, pemilihan jurnal yang tepat harus disesuaikan dengan bidang kajian agar naskah tidak ditolak sejak awal proses seleksi. Perencanaan dan ketelitian, ujarnya, merupakan kunci utama agar artikel dapat diterima oleh jurnal nasional maupun internasional bereputasi.
Dalam penjelasannya tentang struktur artikel ilmiah, Sigit menguraikan bahwa setiap bagian memiliki fungsi dan peran yang saling melengkapi. Artikel yang baik terdiri atas delapan bagian utama: judul, abstrak, pendahuluan, metode, hasil, pembahasan, kesimpulan, dan daftar pustaka. Judul harus singkat, padat, dan menggambarkan substansi penelitian, sedangkan abstrak berfungsi sebagai miniatur keseluruhan isi artikel. Bagian pendahuluan harus menjelaskan konteks dan urgensi penelitian dengan bahasa yang logis dan menarik. Sementara itu, metode penelitian harus ditulis secara rinci agar memungkinkan pembaca mereplikasi proses yang dilakukan.
Lebih lanjut, Sigit menekankan pentingnya menulis bagian hasil dan pembahasan dengan cermat dan argumentatif. Ia menjelaskan bahwa bagian hasil berfungsi menampilkan data dan temuan penelitian secara objektif, sedangkan pembahasan berperan menafsirkan hasil tersebut dalam kerangka teori yang ada. Diskusi yang baik tidak hanya mengulang hasil, tetapi juga menunjukkan kebaruan dan kontribusi ilmiah penelitian terhadap pengembangan pengetahuan. Ia mengingatkan agar penulis tetap jujur dan tidak memanipulasi data demi mengejar publikasi. Dengan demikian, setiap artikel akan mencerminkan kejujuran ilmiah dan etika akademik yang tinggi.
Pada bagian kesimpulan, Sigit mengingatkan bahwa bagian ini bukan sekadar ringkasan penelitian, tetapi harus menegaskan kembali temuan utama dan implikasi ilmiahnya. Kesimpulan yang baik memberikan pandangan baru, arah penelitian selanjutnya, serta refleksi terhadap hasil yang diperoleh. Ia menilai bahwa penulis pemula sering kali menulis kesimpulan secara umum tanpa menonjolkan kebaruan atau relevansi temuan. Padahal, kesimpulan yang kuat menjadi bagian paling menentukan bagi pembaca dalam menilai bobot ilmiah sebuah artikel. Oleh karena itu, setiap penulis perlu menulis kesimpulan dengan cermat dan reflektif agar hasil penelitian memiliki daya tarik akademik yang tinggi.
Dalam sesi lanjutan, Sigit mengupas strategi praktis menembus jurnal bereputasi, baik yang terindeks SINTA maupun Scopus. Ia menegaskan pentingnya memahami cakupan (scope) jurnal, gaya selingkung, serta kepatuhan terhadap author guidelines. Naskah yang hendak dikirim harus melalui pemeriksaan plagiarism checker untuk memastikan orisinalitas tulisan. Selain itu, penulis perlu bersikap terbuka terhadap proses peer review dan siap melakukan revisi berdasarkan masukan dari reviewer. Sikap profesional dan ketekunan dalam memperbaiki naskah menjadi faktor penting yang membedakan antara penulis yang berhasil dan yang gagal menembus jurnal bereputasi.
Sigit juga menguraikan berbagai faktor yang sering menyebabkan artikel ditolak oleh jurnal ilmiah. Beberapa di antaranya adalah ketidaksesuaian topik dengan fokus jurnal, pelanggaran terhadap pedoman penulisan, lemahnya kebaruan penelitian, dan kesalahan metodologis. Ia menegaskan bahwa kualitas argumentasi dan kejelasan tujuan penelitian menjadi indikator utama keberhasilan publikasi. Penulis harus memiliki kemampuan analisis kritis dan menulis dengan alur logika yang koheren agar artikel mudah dipahami reviewer. “Artikel yang baik bukan yang rumit, tetapi yang mampu menyampaikan ide secara jernih dan terstruktur,” tuturnya penuh penekanan.
Di akhir pemaparannya, Sigit menutup sesi dengan pesan inspiratif bagi seluruh peserta seminar. Ia menyampaikan bahwa menulis artikel ilmiah adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, kejujuran, dan semangat belajar terus-menerus. Dunia akademik, katanya, menuntut dedikasi dan keikhlasan dalam berbagi pengetahuan untuk kemaslahatan umat. Ia mengajak mahasiswa untuk tidak takut memulai menulis, karena setiap tulisan merupakan langkah awal menuju kematangan intelektual. “Menulis bukan sekadar menghasilkan karya, melainkan membangun peradaban,” tutupnya dengan nada reflektif.



