pgmiuinkhasjember87@gmail.com 085258255855

Membangun Pendidikan dengan hati Husnuzan: Dr. Siti Aimah Dorong Mahasiswa PGMI Terapkan Nilai Husnuzan dalam Kelas Tanpa Penghakiman

Home >Berita >Membangun Pendidikan dengan hati Husnuzan: Dr. Siti Aimah Dorong Mahasiswa PGMI Terapkan Nilai Husnuzan dalam Kelas Tanpa Penghakiman
Diposting : Kamis, 30 Oct 2025, 17:19:32 | Dilihat : 53 kali
Membangun Pendidikan dengan hati Husnuzan: Dr. Siti Aimah Dorong Mahasiswa PGMI Terapkan Nilai Husnuzan dalam Kelas Tanpa Penghakiman


Membangun Pendidikan dengan hati Husnuzan: Dr. Siti Aimah Dorong Mahasiswa PGMI Terapkan Nilai Husnuzan dalam Kelas Tanpa Penghakiman


Jember 927/10/2025) - Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember kembali menghadirkan kegiatan akademik yang sarat nilai kemanusiaan. Melalui kuliah tamu bertajuk “Merancang Protokol Kelas Zero Judgement: Implementasi Nilai Husnuzan dalam Interaksi Guru–Siswa,” Dr. Siti Aimah, S.Pd.I., M.Si., Direktur Pascasarjana Universitas KH. Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Blokagung Banyuwangi, menginspirasi para mahasiswa calon guru untuk menghidupkan kembali makna husnuzan dalam dunia pendidikan. Acara ini diselenggarakan pada Senin, 27 Oktober 2025, di ruang rapat FTIK lantai 2 dengan partisipasi aktif mahasiswa dan dosen PGMI. Kehadiran beliau membawa suasana reflektif dan penuh semangat di tengah diskusi ilmiah yang hangat. Kuliah tamu ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk menata ulang paradigma pendidikan yang lebih empatik dan berkeadaban.

Dalam pemaparannya, Dr. Siti Aimah menyoroti tantangan perilaku su’uzan (prasangka negatif) yang masih sering mewarnai interaksi guru dan siswa di ruang kelas. Ia menjelaskan bahwa ketika guru berprasangka buruk terhadap siswa, proses belajar kehilangan makna dan menjadi sarat ketakutan. Siswa menjadi pasif, enggan berpendapat, dan kehilangan keberanian untuk mencoba hal baru. Suasana kelas yang penuh penghakiman justru melahirkan jarak emosional antara pendidik dan peserta didik. Menurutnya, saatnya pendidikan Islam melangkah menuju paradigma zero judgement classroom yang berakar pada nilai husnuzan sebagai pilar etika dan spiritualitas pembelajaran.

Konsep Zero Judgement Classroom (KZJ), lanjut Dr. Siti Aimah, menekankan pentingnya membangun lingkungan belajar yang aman secara psikologis dan penuh penghargaan terhadap potensi siswa. Dalam model ini, guru tidak sekadar mengajar, tetapi juga menjadi penuntun yang melihat setiap perilaku siswa dengan kacamata positif. Kesalahan tidak dianggap sebagai kelemahan, melainkan kesempatan belajar yang berharga. Ia menegaskan bahwa setiap anak memiliki dorongan alami untuk berkembang jika diberi ruang kepercayaan. Dengan pendekatan tersebut, suasana belajar menjadi lebih terbuka, penuh kasih, dan menghidupkan nilai kemanusiaan sejati.

Dalam materinya, Dr. Siti Aimah memaparkan tiga protokol utama penerapan KZJ. Pertama, Audit Diri Guru, yang mendorong pendidik untuk merefleksikan sikap dan prasangka pribadi sebelum menilai siswa. Kedua, Komunikasi Berbasis Husnuzan, yang menekankan penggunaan bahasa positif, dialog terbuka, dan penghargaan terhadap perbedaan. Ketiga, Respons terhadap Kesalahan dengan Hikmah, yaitu mengganti hukuman dengan pendekatan tabayyun dan pembinaan penuh kasih. Menurutnya, tiga protokol ini adalah fondasi menuju pembelajaran yang memanusiakan manusia. Kelas seperti inilah yang akan melahirkan siswa berkarakter, percaya diri, dan berakhlak mulia.

Lebih jauh, beliau menjelaskan bahwa menerapkan husnuzan tidak berarti menghapus disiplin, tetapi mengubah cara pandang terhadap kesalahan siswa. Disiplin yang diterapkan dengan kasih sayang menghasilkan kepatuhan yang lahir dari kesadaran, bukan ketakutan. Ia memberi contoh bagaimana kalimat sederhana seperti “tolong perhatikan langkahnya agar hasilnya lebih baik” dapat menggantikan ucapan yang menghakimi seperti “kamu ceroboh.” Bahasa, menurutnya, adalah jendela empati yang dapat membangun atau meruntuhkan semangat siswa. Dengan berhusnuzan, guru tidak hanya mengajar ilmu, tetapi juga menanamkan nilai akhlak yang luhur.

Selain bermanfaat bagi siswa, pendekatan kelas tanpa penghakiman juga berdampak positif bagi guru. Lingkungan belajar yang berlandaskan empati menjadikan guru lebih tenang, fokus, dan termotivasi untuk berinovasi. Kelas yang harmonis memungkinkan guru menyalurkan energinya untuk pengembangan pembelajaran, bukan sekadar pengendalian perilaku. Ia menegaskan bahwa pendidikan yang sejati bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi juga transfer nilai dan kebijaksanaan. Dalam konteks inilah, guru berperan sebagai teladan spiritual yang menumbuhkan kebaikan dalam diri siswa dan dirinya sendiri.

Namun, Dr. Siti Aimah juga menyadari adanya tantangan struktural dan kultural dalam menerapkan kelas zero judgement di dunia nyata. Kebiasaan mengajar konvensional, tekanan administratif, dan lingkungan kerja yang tidak suportif sering kali menjadi penghambat perubahan. Ia menawarkan tiga solusi sederhana: pelatihan reflektif bagi guru, dukungan antar-rekan sejawat, dan penerapan bertahap dimulai dari perubahan kecil yang konsisten. Menurutnya, perubahan besar dalam dunia pendidikan selalu dimulai dari satu langkah kecil yang dijalankan dengan kesadaran dan ketulusan. Prinsip inilah yang akan menjembatani idealisme akademik dengan realitas praktik di lapangan.

Dalam penutupnya, Dr. Siti Aimah mengajak seluruh mahasiswa PGMI untuk menjadikan nilai husnuzan sebagai etos pendidikan dan spiritualitas profesi guru. Ia menegaskan bahwa guru yang berhusnuzan tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menenangkan jiwa peserta didiknya. Kelas tanpa penghakiman menjadi ruang tumbuh bagi kejujuran, empati, dan penghargaan terhadap keberagaman karakter siswa. “Guru yang menanamkan kepercayaan dan kasih sayang sejatinya sedang menanam pahala yang tak pernah putus,” ucapnya penuh makna. Pernyataan itu disambut tepuk tangan hangat peserta yang merasa tercerahkan oleh makna mendalam dari pendidikan berhati.

Sebagai kesimpulan, kuliah tamu yang disampaikan Dr. Siti Aimah, S.Pd.I., M.Si. menegaskan bahwa husnuzan merupakan pondasi moral dan strategi pedagogis yang relevan bagi dunia pendidikan modern. Konsep Zero Judgement Classroom menjadi pendekatan praktis untuk membangun ruang belajar yang aman, empatik, dan produktif. Dengan komunikasi positif, refleksi diri, dan respon penuh hikmah terhadap kesalahan, guru dapat menumbuhkan budaya belajar yang berkeadilan dan berakhlak. Pendidikan yang berlandaskan prasangka baik bukan hanya mencetak peserta didik yang cerdas, tetapi juga membangun peradaban yang penuh kasih. Melalui husnuzan, guru menanam benih kebaikan yang akan tumbuh abadi dalam kehidupan generasi masa depan.

Berita Terbaru

LOMBA TARI SEMARAKKAN PSDO KE-IV
15 Nov 2022By oprpgmi
MENEGANGKAN SEKALI!!! PERSAINGAN KETAT BABAK PENYISIHAN OLIMPIADE MIPA PSDO KE-IV
14 Nov 2022By oprpgmi
MEMBANGGAKAN, ALUMNI MAHASISWI PGMI MENJADI SALAH SATU DELEGASI PENYUSUN INSTRUMEN AKMI TINGKAT MI
13 Nov 2022By oprpgmi

Agenda

Informasi Terbaru

Belum ada Informasi Terbaru

Lowongan

;