Sambut Hari Santri Nasional 2026, Keluarga Besar PGMI UIN KHAS Jember Ikuti Perkuliahan dengan Busana Ala Santri

Perkuat Karakter Calon Guru Madrasah, Mahasiswa PGMI UIN KHAS Jember Kenakan Busana Ala Santri



Jember (19/10/2026) – Keluarga besar Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), khususnya Angkatan 2024 kelas D5 Prodi PGMI Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember mulai menyemarakkan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 melalui kegiatan perkuliahan dengan mengenakan busana ala santri pada Senin, 19 Oktober 2026. Mahasiswa laki-laki mengenakan baju muslim dan sarung, sedangkan mahasiswi mengenakan busana muslim yang sopan dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk partisipasi sivitas akademika PGMI dalam menghidupkan semangat Hari Santri di lingkungan kampus.


Penggunaan busana ala santri tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional yang diselenggarakan di lingkungan UIN KHAS Jember pada 19–22 Oktober 2026. Kebijakan ini mengacu pada surat edaran Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUPK) UIN KHAS Jember Nomor B-6221/Un.22/1/HM.00.3/10/2026. Melalui kebijakan tersebut, seluruh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa diimbau mengenakan pakaian ala santri sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi pesantren dan kontribusinya bagi bangsa Indonesia.




Bagi mahasiswa PGMI, peringatan Hari Santri Nasional tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga sebagai momentum untuk memahami kembali sejarah perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satu peristiwa penting yang menjadi dasar peringatan tersebut adalah Resolusi Jihad yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945 melalui peran para ulama dan tokoh pesantren, termasuk Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari. Nilai perjuangan tersebut relevan untuk menumbuhkan kesadaran historis, semangat pengabdian, dan tanggung jawab kebangsaan pada diri mahasiswa sebagai calon pendidik.


Selain memiliki fungsi historis, Hari Santri Nasional juga mengandung nilai edukatif yang penting bagi pengembangan karakter mahasiswa PGMI. Tradisi pesantren mengajarkan kedalaman ilmu, pembentukan akhlak, kedisiplinan, penghormatan kepada guru, serta ketekunan dalam menuntut ilmu. Nilai-nilai tersebut dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Dasar (SD) agar calon guru mampu mengembangkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik.


Peringatan Hari Santri Nasional juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi tantangan profesi guru pada abad ke-21. Guru sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah dituntut memiliki kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian yang seimbang. Oleh karena itu, semangat keikhlasan, ketekunan, kemandirian, dan tanggung jawab yang tumbuh dalam tradisi pesantren dapat menjadi landasan moral bagi mahasiswa PGMI dalam menjalankan tugas pendidikan pada masa mendatang.


Dari sisi pedagogik, peringatan Hari Santri Nasional memberikan kesempatan bagi mahasiswa PGMI untuk merefleksikan hubungan antara pendidikan agama, ilmu pengetahuan, dan pembentukan akhlak. Mahasiswa dapat mengembangkan rancangan pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan materi pelajaran umum melalui pendekatan yang kontekstual, kreatif, dan sesuai dengan perkembangan peserta didik. Dengan demikian, lulusan PGMI diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan penguasaan teknologi pembelajaran, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam perilaku dan integritas moral.


Nilai nasionalisme religius juga menjadi bagian penting yang dapat dipetik dari peringatan Hari Santri Nasional 2026. Mahasiswa PGMI perlu memahami bahwa pengamalan ajaran agama dan kecintaan terhadap tanah air dapat berjalan beriringan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pemahaman tersebut dapat diteruskan kepada peserta didik melalui pembelajaran yang menanamkan sikap toleran, tanggung jawab, kepedulian sosial, penghargaan terhadap keberagaman, dan semangat persatuan.


Sebagai bagian dari masyarakat Jember yang memiliki tradisi pesantren yang kuat, mahasiswa PGMI juga berpeluang menjadikan momentum Hari Santri Nasional sebagai sarana memperluas pengalaman belajar di luar ruang kuliah. Keterlibatan dalam kegiatan pesantren, aktivitas literasi anak, pengabdian kepada masyarakat, maupun kolaborasi dengan komunitas pendidikan Islam dapat memperkuat keterampilan sosial dan pengalaman praktis mahasiswa. Pengalaman tersebut sekaligus dapat menjadi bekal untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat dan kearifan lokal.


Peringatan Hari Santri Nasional juga sejalan dengan kebutuhan pengembangan profil lulusan PGMI sebagai pendidik, peneliti, dan pengembang pembelajaran dasar berbasis nilai-nilai Islam. Mahasiswa perlu membangun kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan kurikulum, teknologi pendidikan, dan kebutuhan belajar peserta didik tanpa meninggalkan landasan etika serta tradisi keilmuan Islam. Perpaduan antara kompetensi akademik, keterampilan pedagogik, dan karakter religius diharapkan dapat melahirkan calon guru yang profesional sekaligus memiliki kepedulian terhadap perkembangan generasi muda.



Melalui kegiatan perkuliahan dengan busana ala santri, keluarga besar PGMI FTIK UIN KHAS Jember diharapkan semakin menghayati makna Hari Santri Nasional sebagai momentum penguatan ilmu, akhlak, dan nasionalisme. Semangat tersebut perlu diwujudkan secara berkelanjutan melalui kegiatan pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan. Dengan demikian, mahasiswa PGMI dapat mengambil peran strategis dalam menyiapkan generasi yang berkarakter, berwawasan kebangsaan, adaptif terhadap perubahan zaman, dan berkontribusi bagi terwujudnya Indonesia Emas.

Admin PGMI

Tags: Pendidikan Berita Terkini Informasi
Bagikan: