Belajar IPA Lebih Menyenangkan, Mahasiswa PGMI UIN KHAS Jember Praktikkan Eksperimen Sains Sederhana
Jember
(19/10/2026) – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
(PGMI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), UIN Kiai Haji Achmad Siddiq
(UIN KHAS) Jember mengikuti kegiatan praktikum sains dalam mata kuliah
Pembelajaran IPA SD/MI pada Senin, 19 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung
di Gedung G tersebut diampu oleh Dr. Muhammad Suwignyo Prayogo, M.Pd.I., dengan
menghadirkan berbagai percobaan sains sederhana yang dapat diterapkan dalam
pembelajaran di sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah. Suasana praktikum terasa
istimewa karena mahasiswa tetap menunjukkan antusiasme tinggi meskipun
perkuliahan berlangsung pada siang hari dengan mengenakan busana ala santri.
Kegiatan
ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran IPA yang aktif,
kontekstual, dan menyenangkan bagi mahasiswa calon guru MI/SD. Mahasiswa
laki-laki mengikuti praktikum dengan mengenakan busana muslim, sarung, dan
peci, sedangkan mahasiswi mengenakan busana muslim sesuai dengan rangkaian
peringatan Hari Santri Nasional 2026 di lingkungan kampus. Perpaduan antara
suasana akademik dan tradisi santri tersebut menunjukkan bahwa semangat
menuntut ilmu dapat berjalan selaras dengan penguatan identitas religius
mahasiswa.
Dalam
pelaksanaannya, mahasiswa melakukan sejumlah percobaan sains sederhana, di
antaranya eksperimen balon menempel, merica penakut, dan gelembung dalam
gelembung. Setiap percobaan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk
mengamati fenomena ilmiah, memahami konsep yang mendasarinya, serta
mendiskusikan hasil pengamatan bersama peserta praktikum lainnya. Mahasiswa
yang bertugas sebagai praktikan maupun audiens terlihat aktif menyimak
demonstrasi, mengajukan pertanyaan, dan mengikuti proses percobaan dengan penuh
perhatian.
Praktikum
tersebut tidak hanya berorientasi pada hasil percobaan, tetapi juga menekankan
pentingnya proses ilmiah dalam pembelajaran IPA. Melalui kegiatan observasi,
percobaan, dan diskusi, mahasiswa dilatih untuk mengembangkan keterampilan
proses sains, seperti mengamati, mengidentifikasi gejala, menyusun penjelasan
berdasarkan bukti, dan menarik kesimpulan. Pengalaman ini menjadi bekal penting
bagi mahasiswa PGMI agar mampu menjelaskan konsep IPA secara konkret dan
sistematis kepada peserta didik usia sekolah dasar.
Eksperimen
sederhana juga berfungsi sebagai sarana untuk menghubungkan teori yang
dipelajari di ruang kuliah dengan fenomena yang dapat diamati secara langsung.
Konsep-konsep seperti gaya, tekanan, tegangan permukaan, dan sifat bahan dapat
diperkenalkan melalui percobaan yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan
karakteristik peserta didik. Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran IPA
diharapkan tidak berhenti pada hafalan istilah, tetapi berkembang menjadi
pemahaman konseptual yang bermakna.
Bagi
mahasiswa PGMI, kegiatan praktikum memiliki relevansi langsung dengan
pengembangan kompetensi pedagogik dan profesional sebagai calon guru kelas.
Mahasiswa memperoleh pengalaman dalam memilih percobaan, menjelaskan prosedur,
mengelola aktivitas kelompok, serta menyampaikan hasil pengamatan dengan bahasa
yang mudah dipahami. Keterampilan tersebut dapat diterapkan ketika mereka
merancang pembelajaran IPA yang melibatkan peserta didik secara aktif melalui
kegiatan eksperimen atau demonstrasi sederhana.
Selain
memperkuat pemahaman konsep, praktikum sains juga mendorong kreativitas
mahasiswa dalam mengembangkan media dan alat peraga pembelajaran. Berbagai
bahan sederhana yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan
untuk memperkenalkan konsep ilmiah tanpa selalu bergantung pada fasilitas
laboratorium yang lengkap. Kemampuan ini penting bagi calon guru MI/SD agar
tetap dapat menghadirkan pembelajaran yang menarik, efektif, dan sesuai dengan
kondisi sarana prasarana sekolah.
Kegiatan
praktikum juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk melatih ketelitian,
kesabaran, kerja sama, komunikasi, dan rasa ingin tahu ilmiah. Selama proses
pembelajaran, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi
juga sebagai peserta aktif yang mengamati, mencoba, berdiskusi, dan
mengevaluasi hasil percobaan. Pengalaman tersebut mendukung pembentukan
karakter calon pendidik yang terbuka terhadap pertanyaan, menghargai bukti, dan
terbiasa menyelesaikan masalah melalui pendekatan ilmiah.
Antusiasme
mahasiswa terlihat hingga perkuliahan berlangsung selama kurang lebih dua
setengah jam tanpa mengurangi semangat mereka untuk mencoba dan mendiskusikan
berbagai percobaan. Suasana pembelajaran yang interaktif memberikan kesempatan
kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman langsung sekaligus memahami bahwa
sains dapat dipelajari melalui kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan
sehari-hari. Hal ini menunjukkan pentingnya strategi pembelajaran berbasis
praktik dalam menciptakan pengalaman akademik yang lebih hidup dan bermakna.
Melalui kegiatan bertajuk praktikum sains ala mahasantri ini, mahasiswa PGMI FTIK UIN KHAS Jember diharapkan semakin siap menjadi guru yang kreatif, inovatif, dan mampu mengembangkan pembelajaran IPA yang menyenangkan bagi peserta didik. Penguasaan konsep ilmiah yang disertai keterampilan eksperimen dan kemampuan pedagogik menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21. Dengan demikian, kegiatan praktikum tidak hanya memperkaya pengalaman perkuliahan, tetapi juga memperkuat kesiapan mahasiswa untuk menghadirkan pembelajaran sains yang aktif, kontekstual, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi peserta didik.