Batik bukan sekadar kain dengan
beragam corak, tetapi memiliki nilai sejarah, filosofi, dan budaya yang
diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap motif batik memiliki cerita,
sementara perpaduan warna dan setiap goresan di dalamnya mencerminkan kreativitas
serta kearifan masyarakat Indonesia. Keberagaman tersebut menjadikan batik
sebagai warisan budaya yang memiliki nilai penting untuk terus dipelajari dan
dikenalkan kepada generasi muda.
Bagi dunia pendidikan, pengenalan
batik juga dapat menjadi sarana untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya dan
membangun karakter peserta didik. Mahasiswa PGMI sebagai calon guru madrasah
ibtidaiyah memiliki peran strategis dalam mengenalkan kekayaan budaya Nusantara
kepada anak-anak sejak usia dini. Dengan demikian, pelestarian batik tidak
hanya dilakukan melalui penggunaan, tetapi juga melalui proses pendidikan yang
menumbuhkan kesadaran dan kebanggaan terhadap budaya Indonesia.
Peringatan Hari Batik Nasional
menjadi pengingat bahwa keberlangsungan budaya sangat bergantung pada
kepedulian setiap generasi untuk mengenal dan menjaganya. Keluarga Besar Prodi
PGMI dan HMPS PGMI berharap semangat melestarikan batik dapat terus tumbuh di
kalangan mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa. Upaya sederhana seperti
mengenakan, mempelajari filosofi, serta memperkenalkan berbagai motif batik
kepada masyarakat dapat menjadi bagian dari langkah nyata menjaga warisan
budaya tersebut.
Melalui momentum Hari Batik
Nasional 2026, Keluarga Besar Prodi PGMI FTIK UIN KHAS Jember mengajak
seluruh masyarakat untuk terus berjalan bersama dalam menjaga keberadaan batik
sebagai warisan budaya Nusantara. Batik dapat dimaknai sebagai perjalanan
budaya yang terus diwariskan, karena setiap motif membawa cerita, setiap warna
menyimpan makna, dan setiap goresan merekam kekayaan tradisi Indonesia. Mari
terus mengenal, mencintai, menggunakan, dan melestarikan batik agar warisan
budaya bangsa ini tetap hidup dan bermakna bagi generasi mendatang.
Admin PGMI